EngradeWikisPerangkat komputer › PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PAI KLS IX

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )
NOMOR : 08

SMP : SMP Negeri 1 Kedokanbunder
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas / Semester : IX / II
Standar Kompetensi : 8. Memahami Al-Qur’an surah Al-Insyirah
Kompetensi Dasar : 8.1 Menampilkan bacaan Qur’an surah Al-Insyirah dengan tartil dan benar
Alokasi Waktu : 8 x 40 menit ( 4 x pertemuan)

A. Tujuan Pembelajaran
1. Peserta didik dapat Membaca potongan ayat Al-Qur’an surah Al-Insyirah dengan benar
2. Peserta didik dapat Membaca keseluruhan ayat dalam Qur’an surah Al-Insyirah dengan tartil dan benar
3. Peserta didik dapat mengartikan masing-masing kata dalam Qur’an surah Al-Insyirah dengan benar
4. Peserta didik dapat mengartikan masing-masing ayat Qur’an surah Al-Insyirah dengan benar
5. Peserta didik dapat mengartikan seluruh ayat Qur’an surah Al-Insyirah dengan benar
6. Peserta didik dapat menjelaskan makna yang terkandung dalam QS Al-Insyirah
7. Peserta didik dapat menjelaskan makna bekerja keras dan berserah diri kepada Allah seperti terkandung dalam QS Al-Insyirah
8. Peserta didik dapat menunjukkan contoh-contoh perilaku bekerja keras dan selalu berserah diri kepada Allah seperti terkandung dalam QS Al-Insyirah
9. Peserta didik dapat mempraktikkan prilaku bekerja keras dan selalu berserah diri kepada Allah seperti yang terkandung dalam QS Al-Insyirah pada kehidupan sehari-hari

B. Materi Pembelajaran
C. Al Qur’an Surat Al Insyirah
1. Teks Al Qur’an Surat Al Insyirah

(۳) الذي أنقض ظهرك (۲) ووضعنا عنك وزرك (۱) ألم نشرح لك صدرك
(۶) إن مع العسر يسرا (۵) فإن مع العسر يسرا (۴) ورفعنا لك ذكرك
(۸) وإلى ربك فارغب (۷) فإذا فرغت فانصب
2. Arti Mufradat
Terjemah Ayat
Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (۱) ألم نشرح لك صدرك
Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu (۲) ووضعنا عنك وزرك
Yang memberatkan punggungmu (۳) الذي أنقض ظهرك
Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (namamu). (۴) ورفعنا لك ذكرك
Karena sesunggunya sesudah kesulitan ada kemudahan (۵) فإن مع العسر يسرا
Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan (۶) إن مع العسر يسرا
Maka apabila kamu telah selesai (dari sebuah urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain (۷) فإذا فرغت فانصب
Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (۸) وإلى ربك فارغب
3. Terjemah
(1) Bukankah Kami telah melapangkan untukmu
dadamu ?
(2) Dan Kami telah menghilangkan daripadamu
bebanmu
(3) Yang memberatkan punggungmu
(4) Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (namamu).
(5) Karena sesunggunya sesudah kesulitan ada
kemudahan.
(6) Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan
(7) Maka apabila kamu telah selesai (dari sebuah
urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh
urusan yang lain
(8) Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu
berharap.
4. Penjelasan
a. Surat Al Insyirah terdiri atas 8 ayat, termasuk golongan surat Makkiyah dan diturunkan sesudah surat Adh Dhuhaa.
b. Surat Al Insyirah dinamakan juga “Alam Nasyrah” diambil dari kata “Alam Nasyrah” yang terdapat pada ayat pertama, yang berarti “Bukankah Kami telah melapangkan”.
c. Pokok-pokok isinya : penegasan tentang ni’mat-ni’mat Allah s.w.t. yang diberikan kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan pernyataan Allah bahwa di samping kesukaran ada kemudahan karena itu diperintahkan kepada Nabi agar tetap melakukan amal-amal saleh dan bertawakkal kepada-Nya.

D. Metode Pembelajaran
1. Demonstrasi
2. Drill
3. Pendekatan CTL (Learning Community)

E. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan Pendahuluan
a. Guru memberi salam dan mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pelajaran dengan memulai membaca basmalah atau berdoa.
b. Siswa membaca ayat-ayat al-Qur’an selama 5 menit.
c. Guru melakukan apersepsi dengan mengingatkan materi sebelumnya dengan materi yang akan diajarkan.
d. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar serta cakupan materi yang akan diajarkan.
2. Kegiatan Inti
Pertemuan Pertama :
a. Dengan metode driil Guru membimbing siswa secara berkelompok dan secara individu membaca potongan-potongan ayat al Qur’an Surat Al Insyirah.
b. Dengan metode driil Guru membimbing siswa secara berkelompok dan secara individu membaca keseluruhan ayat al Qur’an Surat Al Insyirah.
c. Dengan metode driil Guru membimbing siswa secara berkelompok dan secara individu membaca keseluruhan ayat al Qur’an Surat Al Insyirah dengan tartil dan benar.
Pertemuan Kedua :
a. Dengan metode diskusi Guru membimbing siswa untuk melakukan diskusi kelompok dalam mengungkap arti masing-masing kata dalam al Qur’an Surat Al Insyirah.
b. Dengan metode diskusi Guru membimbing siswa untuk melakukan diskusi kelompok dalam mengartikan masing-masing ayat dalam al Qur’an Surat Al Insyirah
c. Setiap kelompok menyampaikan presentasi hasil diskusi kelompok.
Pertemuan Ketiga :
a. Dengan metode diskusi Guru membimbing siswa untuk melakukan diskusi kelompok dalam mengartikan keseluruhan ayat dalam al Qur’an Surat Al Insyirah
b. Dengan metode diskusi Guru membimbing siswa untuk melakukan diskusi kelompok dalam mengungkap makna dari setiap ayat yang ada dalam al Qur’an Surat Al Insyirah.
Pertemuan Keempat :
a. Dengan metode diskusi Guru membimbing siswa untuk melakukan diskusi kelompok dalam mengungkap pesan-pesan pokok dari al Qur’an Surat Al Insyirah Secara bersama-sama siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan tentang pesan-pesan pokok dari Surat Al Insyirah
3. Kegiatan Penutup
a. Dengan bimbingan siswa menyimpulkan materi tentang Surat Al Insyirah
b. Guru memberikan penilaian dan memotivasi siswa untuk membuat rangkuman tentang arti Surat Al Insyirah
c. Guru memberikan umpan balik dan refleksi terhadap proses dan hasil pembelajaran
d. Guru memberikan tugas kepada Peserta didik untuk menghapal Surat Al Insyirah di rumah

F. Alat / Sumber Belajar
1. Al-Qur’an dan terjemahannya
2. Buku paket Pendidikan Agama Islam
3. Buku-buku lainnya yang relevan

G. Penilaian
1. Teknik
a. Unjuk kerja
b. Tes lisan

2. Contoh Instrumen
1. Bacalah Al-Qur’an surah Al-Insyirah ayat 1-4 dengan tartil dan benar !
2. Bacalah Al-Qur’an surah Al-Insyirah ayat 5-9 dengan tartil dan benar !
3. Bacalah keseluruhan ayat dalam Qur’an surah Al-Insyirah dengan benarPeserta didik dapat Membaca Al-Qur’an !



Kedokanbunder, Januari 2011
Mengetahui :
Kepala Sekolah,






MOHAMAD HATTA, M.Pd
NIP. 19680315 1999003 1 005

Guru PAI,



SANDIKA, S.Pd.I
NIP. 19650901 200003 1 003

RPP PAI NO 09

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )
NOMOR : 09

SMP : SMP Negeri 1 Kedokanbunder
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas / Semester : IX / II
Standar Kompetensi : 9. Memahami Ajaran Al-Hadits tentang Kebersihan
Kompetensi Dasar : 9.1 Membaca al-Hadits tentang kebersihan
Alokasi Waktu : 6 x 40 menit ( 3 x pertemuan )

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah kegiatan belajar mengajar ini, diharapkan peserta didik dapat :
1. Membaca potongan hadits tentang kebersihan dengan benar
2. Membaca hadits secara keseluruhan tentang kebersihan dengan benar
3. Mengartikan setiap kata dalam hadits tentang kebersihan dengan benar
4. Mengartikan keseluruhan hadits tentang kebersihan dengan benar
5. Menjelaskan makna kebersihan seperti yang terkandung dalam al Hadits.
6. Menampilkan perilaku bersih dalam kehidupan sehari-hari dilingkungan keluarga
7. Menampilkan perilaku bersih dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah

B. Materi Pembelajaran
1. Agama Islam Mementingkan Kebersihan
Bacalah hadits berikut dengan benar :
ﺍﻠﺑﻴﻬﻘﻲ ﺮﻮﺍﻩ ﻧﻈﻴﻑ ﺍﻻ ﻻﻴﺩﺨﻝﺍﻠﺠﻧﺔ ﻧﻪ ﻔﺈ ﻔﺗﻧﻈﻔﻮﺍ ﻧﻈﻴﻑ ﺍﻹﺴﻼﻢ

Terjemah hadits :
“Islam itu agama yang sangat mementingkan kebersihan, tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang bersih”. (HR. Baihaqi)
Terjemahan per kata :
ﺍﻹﺴﻼﻢ = agama Islam
ﻧﻈﻴﻑ = bersih
ﻔﺗﻧﻈﻔﻮﺍ = maka bersihkanlah
ﻧﻪ ﻔﺈ = sungguh ia
ﻻﻴﺩﺨﻝﺍﻠﺠﻧﺔ = tidak akan masuk
ﺍﻠﺠﻧﺔ = surga
ﺍﻻ = kecuali
ﻧﻈﻴﻑ = orang yang bersih

Pokok-pokok pikiran hadits
Islam adalah agama suci, maka syari’at Islam sangat memperhatikan kebersihan. Setiap ibadah mahdah disyari’atkan harus suci baik dari hadats maupun najis. Umpamanya seseorang yang akan melakukan shalat dia harus mandi jinabat dahulu bila ia junub, dan juga berwudlu bila ia berhadats kecil. Tempat dan pakaian juga harus terbebas dari najis. Sesudah semuanya bersih, barulah kita dapat menunaikan shalat dengan memenuhi syarat bersih dari hadats dan najis. Bila tidak maka betapapun bagusnya shalat yang ia kerjakan, hukumnya tidak sah.
Bukan hanya kebersihan lahir, namun juga harus diperhatikan kebersihan bathin. Kebersihan bathin maksudnya adalah bersih dari penyakit-penyakit psikologis, diantaranya: hasud, iri, dengki, fitnah, suudzon, fitnah, egois, marah, dendam, munafiq, dan lain sebagainya. Rasulullah Saw bersabda :

Artinya: “Hindarilah olehmu rasa dengki/ hasud, sebab ia dapat membinasakan segala kebaikan, tidak bedanya seperti api melahap kayu aker, atau rumput, yakni mengakibatkan kufur”.

Artinya: “Bukan ummatku, orang yang mendendam dengki, suka adu-domba dan berilmu dukun, sebaliknya akupun bukan golongan mereka”.
Allah SWT berfirman :

إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين
Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri”. (Q.S. Al Baqarah: 222).

2. Perintah Membersihkan Lingkungan

Bacalah hadits berikut ini dengan baik dan benar !


Terjemah hadits :
“Sesungguhnya Allah itu baik dan suka kepada yang baik. Dia suci dan suka kepada yang bersih, Dia mulia dan senang kepada kemuliaan, Dia pemurah dan suka kepada orang pemurah. Oleh sebab itu bersihkanlah lingkunganmu”. (HR. Tarmidzi).

Terjemahan per kata :
= Sesungguhnya Allah Ta’ala
= Baik
= Mencintai
= Kebaikan
= Bersih
= Kebersihan
= Mulia
= Kemuliaan
= Pemurah
= Orang yang pemurah
= Maka bersihkanlah
= Lingkunganmu

Pokok-pokok pikiran hadits
Hadits tersebut di atas memberi petunjuk bahwa ajaran Islam tentang kebersihan ini merupakan salah satu ajaran yang sangat penting untuk diperhatikan, dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari baik manusia sebagai individu, anggota masyarakat dan juga sebagai warga negara yang bertanggung jawab atas keadaan lingkungan tempat tinggalnya.
Begitu pentingnya arti kebersihan dalam kehidupan manusia ini sehingga untuk menggalakkannya berbagai upaya harus terus menerus dilakukan secara kontinyu oleh setiap orang, di sekolah, di rumah, di jalan-jalan, di tempat-tempat ibadah, di pasar, di terminal, dan lain sebagainya. Kita dapat merasakan hasilnya jika setiap orang mau memelihara kebersihan lingkungannya. Lingkungan akan aman, nyaman, indah dan asri. Jika lingkungan seperti itu kita akan senang tinggal di lingkungan. Bagaimana jika lingkungan kotor? Tentu kita akan merasakan risih, jijik, dan ini mengakibatkan kita tidak betah tinggal, kita akan mencari tempat-tempat lain yang indah, brocken home. Maka peliharalah lingkungan kita.

3. Kebersihan Sebagian Dari Iman
Bacalah hadits berikut ini !

ﺍﻻﻴﻤﺎﻦ ﻤﻦ ﻔﺔ ﺍﻠﻧﻆﺎ

Terjemah hadits :
“Kebersihan adalah sebagian dari iman”. (HR. Ahmad).

Terjemah per kata :
ﻔﺔ ﺍﻠﻧﻆﺎ = Kebersihan itu
ﻤﻦ = Dari
ﺍﻻﻴﻤﺎﻦ = Iman
Pokok-pokok pikiran hadits :
Hadits tersebut memberikan petunjuk bahwa memelihara kebersihan batin dan lahir, termasuk kebersihan lingkungan tempat tinggal merupakan ajaran Islam yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim. Seorang yang beriman, mesti dia hidup bersih. Jika ia tidak dapat memelihara kebersihannya, maka berkuranglah keimanannya. Tidak akan terjadi bagi orang beriman tidak bersih, jorok, kotor, bau, maksiat dan durhaka, sebab dia bersih lahir dan bathinnya.
Syaithan adalah makhluk yang kotor, dia suka kepada yang kotor, maka dia menjadi makhluk terkutuk. Syaithan tidak akan dapat masuk syurga, karena dia kotor, dan akan mengajak manusia melakukan perbuatan yang kotor agar menjadi temannya di neraka. Maka peliharalah kebersihan, kebersihan bagian dari iman.

C. Metode Pembelajaran
1. Demonstrasi
2. Praktek
3. Penugasan

D. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

1. Kegiatan Pendahuluan
a. Memberi salam dan memulai pelajaran dengan membaca basmalah dan berdo’a
b. Membaca ayat-ayat Al-Qur’an selama 5 - 10 menit
c. Menjelaskan tujuan, pokok materi yang akan diajarkan.
2. Kegiatan Inti
Pertemuan Pertama :
a. Dengan bimbingan guru, siswa membaca setiap kata yang ada dalam Hadits tentang Kebersihan;
b. Dengan bimbingan Guru, siswa membaca keseluruhan Hadits tentang kebersihan;
c. Dengan bimbingan Guru, siswa melakukan diskusi kelompok untuk mengungkap arti setiap kata yang ada dalam al Hadits tentang kebersihan;
d. Dengan bimbingan Guru siswa menyusun arti keseluruhan al Hadits tentang kebersihan;
Pertemuan Kedua :
a. Dengan bimbingan Guru siswa melakukan diskusi kelompok, untuk mengungkap makna yang terkandung dalam hadits;;
b. Dengan bimbingan Guru, siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di muka kelas;
3. Kegiatan Penutup
1. Siswa dengan bimbingan Guru menyimpulkan hasil diskusi.
2. Siswa dengan bimbingan Guru melakukan post tes.
3. Guru melakukan refleksi
4. Guru memberikan tugas-gugas.
5. Guru mengajak seluruh siswa menutup kegiatan PBM dengan membaca ”hamdallah”.

E. Alat / Sumber Belajar
1. Buku paket Pendidikan Agama Islam
2. Buku-buku lainnya yang relevan

F. Penilaian
1. Bacalah potongan hadits tentang kebersihan !
2. Bacalah hadits tentang kebersihan secara keseluruhan dengan benar !
3. Hapalkan hadits tentang kebersihan !

Kedokanbunder, Januari 2011
Mengetahui :
Kepala Sekolah,





MOHAMAD HATTA, M.Pd
NIP. 19680315 1999003 1 005

Guru Pendidikan Agama Islam,



SANDIKA, S.PdI
NIP. 19650901 200003 1 003

RPP PAI NO 10

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )
NOMOR ; 10

SMP : SMP Negeri 1 Kedokanbunder
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas / Semester : IX / II
Standar Kompetensi : 10. Meningkatkan keimanan kepada qadha dan qadar
Kompetensi Dasar : 10.1 Menyebutkan cirri-ciri beriman kepada qadha dan qadar
Alokasi Waktu : 6 x 40 menit ( 3 x pertemuan)

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah kegiatan belajar mengajar ini diharapkan peserta didik dapat :
1. Menjelaskan pengertian beriman kepada qadha dan qadar
2. Menyebutkan ciri-ciri seseorang telah beriman kepada qadha dan qadar Allah
3. Menyebutkan perilaku yang menunjukkan beriman kepada qadha dan qadar Allah
4. Menjelaskan pengertian qadha dan qadar Allah
5. Menjelaskan perbedaan antara qadha dan qadar Allah
6. Menjelaskan hubungan antara qadha dan qadar Allah
7. Menyebutkan contoh-contoh qadha dan qadar dalam kehidupan sehari-hari
8. Menyebutkan macam-macam takdir
9. Menunjukkan, mengartikan, dan menyimpulkan isi kandungan ayat-ayat yang berkaitan dengan qadha dan qadar.

B. Materi Pembelajaran
1. Pengertian Iman kepada Qadha dan Qadar
Beriman kepada Qadha dan Qadar Allah merupakan rukun iman yang ke 6, oleh karena itu setiap orang mukmin wajib beriman kepada qadha dan qadar Allah yang baik dan yang buruk datangnya dari Allah Swt.
Secara bahasa (lugowi) qadha berarti keputusan atau ketetapan, dan qadar berarti ketentuan atau ukuran. Secara istilah qadha adalah keputusan atau ketetapan terhadap sesuatu yang telah ditetapkan Allah bagi makhluk-Nya, sedangkan qadar adalah segala ketentuan Allah yang harus berlaku bagi semua makhluk-Nya, baik sesuatu hal yang akan terjadi maupun yang sudah terjadi atas makhluk-Nya.
Iman kepada qadha dan qadar Allah artinya mempercayai bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini telah ditetapkan menurut hukum Allah.
Ciri-ciri orang yang beriman kepada qadha dan qadar
1. Senantiasa terdorong untuk selalu taat dan menjauhi larangan Allah dan rasulNya
2. Selalu berprasangka baik kepada Allah atas musibah yang menimpa pada dirinya
3. Termotivasi untuk bekerja keras dan berikhtiar dengan maksimal
4. Terhindar dari sifat sombong takabur dan membanggakan diri
5. Tidak mudah berputus asa dalam menghadapi masalah
6. Tidak kufur karena pandai bersyukur
7. Tahan uji karena sabar dalam menghadapi segala ketentuan Allah
8. Memiliki jiwa tawakkal
9. Selalu optimis dalam meraih cita-cita
10 Yakin bahwa segala sesuatu yang menimpa dirinya adalah kehendak Allah semata

2. Pembahasan Qadha dan Qadar Allah
Dalam ungkapan sehari-hari istilah qadha dan qadar disebut takdir. Jadi beriman kepada takdir Allah artinya kita meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini berada di bawah ketentuan dan kekuasaan Allah Swt.
Firman Allah Swt. :

Artinya : “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?” (Q.S. An Nisaa: 78)
Perhatikan pula firman Allah Swt. berikut ini :

Artinya : “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (Q.S. Al Hadid: 22)
Perbedaan qadha dan qadar adalah qadha menyangkut masalah ketetapan makhluk spt mati, jodoh, nasib; sedangkan qadar menyangkut masalah ketentuan /ukuran makhluk.
Dalam istilah sehari-hari, qadha dan qadar disebut dengan ”Takdir”.
Takdir Allah secara garis besarnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Takdir mubran, adalah ketentuan Allah yang pasti terjadi dan harus diterima oleh semua makhluk-Nya. Terhadap ketentuan ini manusia tidak bisa menghindari dan menolaknya. Misalnya terjadinya kiamat, kematian seseorang, jenis kelamin pria dan wanita, dan sebagainya.
2. Takdir Mu’allaq, disebut juga takdir ghairu mubran artinya adalah ketentuan Allah atas makhluk-Nya yang masih mungkin bisa berubah, karena ikhtiar yang sungguh-sungguh. Misalnya: kemiskinan bisa diusahakan dengan giat bekerja agar menjadi kaya. Sakit diusahakan dengan berobat agar cepat sembuh, dan bodoh bisa diusahakan dengan rajin belajar agar menjadi pandai, dan lain-lain.
Dalam berusaha seseorang tidak perlu memikirkan takdir Allah yang akan ditetapkan atas dirinya, sebab semua orang tidak ada yang mengetahui nasibnya di masa yang akan datang. Sebagai orang beriman, berikhtiar merupakan kelengkapan iman kepada Allah. Kita tidak boleh menunggu adanya takdir yang akan diterima dari Allah, tetapi kita wajib berikhtiar dengan sungguh-sungguh. Manusia telah dibekali akal untuk berfikir, memilih dan menimbang, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang salah dan mana yang benar, mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan, mana yang maslahat dan mana yang madlorot. Dengan demikian sebagai orang berakal, pasti akan dapat memilih terhadap pilihan yang tepat sebagai suatu usaha mengubah nasib yang akan menjadi ketetapan Allah. Firman Allah Swt.

إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”, (Q.S. Ar Ra’du: 11)
Dari ayat di atas jelas, bahwa ikhtiar itu wajib dilakukan manusia. Maka bagi orang yang tidak mau berikhtiar, ia berdosa sebab ia telah berputus asa dari rahmat Allah. Firman Allah Swt. :
ولا تيأسوا من روح الله إنه لا ييأس من روح الله إلا القوم الكافرون
Artinya: “Dan janganlah kamu berputus asa atas rahmat Allah. Sesungguhnya tidak akan putus asa terhadap rahmat Allah melainkan kaum kafir”, (Q.S. Yusuf: 87).
Dalam berikhtiar hendaklah kita bertawakkal kepada Allah Swt. Tawakkal artinya menyerahkan diri kepada Allah atas segala sesuatu yang diusahakannya setelah berikhtiar lahir dan batin. Berhasil atau tidak usaha itu tergantung kepada Allah. Dengan bertawakkal maka jika berhasil tentu akan bersyukur kepada-Nya, sebaliknya jika tidak berhasil ia tidak berputus asa, bahkan akan berikhtiar lebih giat lagi. Jika setelah berusaha berulang kali namun belum juga berhasil, maka hendaklah kita menerima takdir itu dengan penuh keikhlasan, karena semua itu Allah yang menentukan, mungkin itu jalan yang terbaik buat kita di sisi Allah. Firman Allah Swt.:
وعلى الله فتوكلوا إن كنتم مؤمنين
Artinya: “Dan hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”, (Q.S. Al Maidah: 23).
Cara-cara untuk bertawakkal sebagai berikut :
1. Hendaklah melakukan pekerjaan dengan tekun dan ikhlas
2. Melaksanakan pekerjaan harus diikuti ikhtiar lahir dan batin
3. Harus mempunyai keyakinan bahwa ikhtiarnya akan berhasil
4. Jika berhasil hendaklah bersyukur kepada Allah, dan jika gagal tidak berputus asa.
Hikmah-hikmah bertawakkal antara lain adalah :
1. Menambah iman dan mendekatkan diri kepada Allah
2. Menumbuhkan sifat sabar dan ketentraman hidup
3. Menghilangkan sifat putus asa dan meningkatkan rasa syukur kepada Allah
4. Menyadarkan manusia bahwa Allah Mahakuasa dalam menentukan segala sesuatu dan manusia tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah.
3. Fungsi Iman Kepada Qadha dan Qadar Allah
1. Menuntun manusia untuk tidak mudah putus asa. Dengan beriman kepada qadha dan qadar Allah, kita akan menyadari bahwa kita manusia hanya dapat berusaha, sedangkan yang menentukan berhasil atau tidaknya adalah Allah. Kita tidak tahu takdir apa yang akan menimpa, maka kita berusaha dan berusaha terus menerus. Selalu berusaha mengadakan perobahan dan perbaikan. Bagi kita berikhtiar adalah merupakan ibadah, maka setiap ikhtiar kita tidak akan sia-sia di sisi Allah, sebab Allah akan membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda. Dengan demikian kita tidak akan pernah putus asa dalam berikhtiar.
2. Melatih manusia bersikap sabar dan tidak takabur. Iman kepada takdir Allah memerlukan sikap sabar, sebab segala ikhtiar yang belum berhasil perlu diatasi dengan kesabaran. Orang sabar akan memperoleh perhatian dari Allah. Orang sabar tidak akan iri melihat keberhasilan orang lain, sebab ia sadar akan memampuan dirinya, sebaliknya bila dirinya berhasil, ia tidak sombong dan membanggakan diri, bahkan ia tambah bersyukur, sebab ia sadar bahwa keberhasilan nya merupakan karunia Allah Swt.
3. Mendidik manusia bersikap ikhlas dan bertawakkal kepada Allah. Kesadaran akan qadha dan qadar adalah milik Allah, tentu kita akan menambah keikhlasan dan ketawakkalan kita kepada Allah di dalam beramal, sebab suka atau tidak suka ketentuan Allah itu pasti berlaku. Menerima dengan hati ikhlas terhadap takdir Allah akan berdampak positif dan jika tidak ikhlas yang akan berdampak negatif terhadap diri kita.
4. Meyakini bahwa cobaan adalah ketentuan qadha dan qadar Allah Swt. Segala musibah dan cobaan, baik yang berupa kesenangan hidup terlebih-lebih yang berupa penderitaan adalah merupakan takdir Allah yang berlaku bagi makhluk-Nya. Dunia ini selalu berputar, nasib manusia terkadang naik ke atas atau terkadang turun ke bawah. Suatu saat kita senang, di saat yang lain kita menderita. Suatu ketika kita sehat, suatu waktu kita juga sakit. Keadaan kita terus silih berganti sampai ajal menjemput, sampai kiamat tiba saatnya.


C. Metode Pembelajaran
1. Ceramah bervariasi
2. Diskusi
3. Tanya jawab
4. Penugasan


D.Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
a.Pendahuluan
1.Memberi salam dan memulai pelajaran dengan membaca basmalah dan berdo’a
2.Membaca ayat-ayat Al-Qur’an selama 5 – 10 menit
3.Menjelaskan materi secara singkat yang akan diajarkan serta kompetensi dasar yang akan dicapai

b.Kegiatan Inti
1.Peserta didik membaca atau menelaah literature tentang pengertian iman kepada qadha dan qadar
2.Peserta didik meandiskusikan tentang cirri-ciri orang yang beriman klepada qadha dan qadar
3.Peserta didik menunjukkan dalil naqli tentang iman kepada qadhaa dan qadar

c. Penutup
1. Menyimpulkan beberapa ketentuan iman kepada qadha dan qadar
2. Memberikan tugas menuliskan dalil-dalil naqli tentang iman kepada qadha dan qadar

E. Alat / Sumber Belajar
1.Al-Qur’an dan terjemahannya
2.Buku paket Pendidikan Agama Islam
3.Buku-buku lainnya yang relevan

F. Penilaian
1.Jelaskan pengertian iman kepada qadha dan qadar !
2.Sebutkan cirri-ciri orang yang beriman kepada qadha dan qadar !
3.Sebutkan prilaku-prilaku yang mencerminan iman kepada qadha dan qadar !


Kedokanbunder, Januari 2011
Mengetahui :
Kepala Sekolah,





MOHAMAD HATTA, M.Pd
NIP. 19680315 1999003 1 005

Guru Pendidikan Agama Islam,


SANDIKA, S.PdI
NIP. 19650901 200003 1 003

RPP PAI NO 11

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )
Nomor : 11

SMP : SMP Negeri 1 Kedokanbunder
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas / Semester : IX / II
Standar Kompetensi : 11. Menghindari perilaku tercela (akhlak)
Kompetensi Dasar : 11.1 Menyebutkan pengertian takabur
Alokasi Waktu : 4 x 40 menit ( 2 x pertemuan)

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah kegiatan belajar mengajar ini, diharapkan peserta didik dapat :
1. Menjelaskan pengertian takabur
2. Menyebutkan dua macam takabur
3. Menyebutkan dalil naqli tentang takabur
4. Menyebutkan contoh-contoh perilaku takabur terhadap Allah Swt, dan takabur terhadap sesame manusia
5. Menghindari perilaku takabur di tengah-tengah lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

B. Materi Pembelajaran

1. Pengertian takabur (sombong)
Takabur artinya merasa diri lebih daripada orang lain. Takabur atau sombong atau angkuh merupakan sifat tercela dan akan melahirkan akhlak mazmumah. Allah melarang kita berlaku sombong dan angkuh, sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat Luqman ayat 18 :


Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Q.S. Lukman: 18).
Ayat di atas menyebut sombong dengan kata “Marohan”(angkuh) dan “Fakhuurin” (membanggakan diri). Dua kata ini merupakan sinonim dari kata sombong. Orang yang sombong itu angkuh (merasa diri lebih dari pada orang lain), dan juga membanggakan diri, karena merasa diri lebih, maka dia membanggakan dirinya. Seseorang merasa pintar karena dapat mengerjakan soal dengan gampang, maka dia membanggakan kepintarannya itu. Jadilah ia orang yang sombong. Orang sombong disebut juga besar kepala, maksudnya ia ingin dibesar-besarkan, ingin disanjung dan dihormati.
Allah Swt. selain benci kepada orang yang memiliki sifat besar,Allah juga mengancam pelakunya dijerumuskan ke dalam neraka dengan tanpa belas kasihan, sebagaimana tersebut dalam hadits qudsi : Dari Abu Hurairah ra. Nabi Saw. bersabda :




Artinya: “Sifat besar adalah pakaian selendangKu, dan sifat Agung juga pakaian sarungKu, maka siapa memungut keduanya, akan Aku jerumuskanb ia ke neraka dan tiada peduli bagiKu”. (HR. Ibnu Majah).
Kedua sifat Besar dan Agung adalah milik Allah, dan tidak pantas bagi manusia yang bersifat lemah meminjam/ memakainya.
2. Orang-Orang Yang Sombong
Di zaman Nabi Musa a.s. Fir’aun adalah orang yang sombong, dia menganggap dirinya sebagai Tuhan yang harus disembah dan ditaati oleh seluruh rakyatnya. Dia juga membanggakan dirinya dengan kedudukannya sebagai raja, keahliannya memanah, dan banyak ahli-ahli sihir yang mendukungnya. Tetapi akhirnya Fir’aun dan balatentaranya semuanya mati ditenggelamkan oleh Allah.
Orang-orang Musyrik seperti Raja Namruz pada zaman Nabi Ibrahim a.s. mereka sombong dan membanggakan diri dengan keahlian membuat gedung-gedung indah dan patung-patung yang mereka buat dan disembahnya setiap saat serta diyakininya dapat mendatangkan manfaat dan menolak madorot yang akan terjadi pada diri mereka. Tetapi akhirnya mereka semua mati oleh serangan makhluk-makhluk kecil seperti tongo, yang mereka anggap lemah dan tak sanggup untuk membuatnya.
Kaum Nabi Nuh a.s. juga sombong dan membanggakan diri dengan ilmu yang tinggi, kedudukan terhormat dan kekayaannya. Mereka suka menghina orang-orang miskin dan lemah. Tetapi akhirnya mereka mereka semua mati (kecuali orang-orang yang beriman bersama Nuh a.s.) karam dalam air bah yang menutupi seluruh permukaan bumi.
Iblis adalah makhluk yang sombong lagi angkuh, dia merasa lebih hebat dan lebih mulia dari Adam karena dia merasa diciptakan Allah dari Api sedang Adam dari tanah. Dia juga merasa lebih tua karena diciptakan lebih dahulu dari pada Adam, dialah yang harus dihormati bukan Adam yang baru diciptakan. Maka Iblis membanggakan diri dan angkuh ketika Allah memerintahkannya untuk sujud kepada Adam.
Allah Swt. menerangkan dalam Kitab Al Qur’an :

Artinya: “Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu (Iblis) untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmy?” Menjawab Iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari syurga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. (Q.S. Al A’raf: 12-13)
Dan masih banyak lagi kisah-kisah dari orang-orang terdahulu yang menyombongkan diri, tetapi akhirnya mereka menemui kebinasaan akibat kesombongannya. Coba kita lakukan mawas diri (instrosfeksi), adakah kesombongan dalam diri kita ?
Ciri-ciri orang yang sombong :
1. Merasa diri melebihi orang lain;
2. Memandang orang lain lemah, kecil;
3. Memandang orang lain jelek, salah;
4. Ingin dihormati dan disanjung;
5. Tidak mau dikoreksi orang lain;
6. Membangga-banggakan diri;
7. Tidak mau terkalahkan oleh orang lain dalam segala hal;
8. Tidak mau bergaul kecuali dengan orang yang sederajat;
9. Perilakunya sembrono, buruk dan membuat orang lain kesal;
10. Kata-katanya kasar, tidak sopan, dan asal senang sendiri.
Setelah kita memahami ciri-ciri orang yang sombong, maka seyogyanya kita mewaspadai dan menjauhi sifat dan perilaku sombong, sebab bahayanya sangat berat.
3. Bahaya Sifat Sombong
Kesombongan berbahaya bagi dirinya, keluarganya, masyarakat, Bangsa dan Negara, antara lain sbb :
1. Lupa akan hakekatnya sebagai makhluk yang lemah dan lupa pada Khaliknya.
2. Menimbulkan permusuhan dan perpecahan.
3. Mempertajam kesenjangan sosial antara orang kaya dan miskin, pejabat dan rakyat jelata.
Akibat bagi orang yang sombong :
1. Di benci dan diazab oleh Allah Swt.
Dalam sebuah hadits, dari Abu Hurairah ra. Nabi Saw. bersabda


Artinya:
“Ada tiga macam manusia yang tidak disapa (tidak diajak bicara) oleh Allah Swt. kelak di hari Kiamat, tidak dibersihkan dan tidak pula dipandang/ tidak dirahmati Allah Swt. bagi mereka azab yang sangat dahsyat. Mereka itu ialah :
a. Tua bangka yang masih tetap suka berbuat zina
b. Penguasa yang tindakannya selalu mengelabui/ membohongi rakyatnya, dan
c. Pengemis yang suka meminta-minta tapi berlaku sombong.
(H.R. Muslim).
2. Dibenci dan dijauhi masyarakat
3. Mendapat kehinaan di dunia terlebih-lebih diakhirat
Dalam sebuah hadits dari Amr bin Syu’aib, dari ayah dan eyangnya, Rasulullah saw. bersabda :


Artinya: “Mereka yang sombong kelak di hari kiamat bakal dihimpun persis seperti semut dalam bentuk pria-pria, mereka diliput kehinaan dari setiap penjuru, digiring ke penjara neraka Jahannam yang dikenal dengan “Penjara Bulasa”, mereka dikepung dengan api yang sangat panas, telak/mulut mereka digelontori minuman nanah dan darah dari Thinatil Khabal, ialah tanah bekas perasan/ kotoran busuk para penghuni neraka.” (HR. Qadla’i)
Dihimpun seperti semut kecil, maksudnya mereka yang takabur kelak di hari Kiamat sangat terhina tiada terbatas, hingga menjadi landasan / dinjak-injak oleh para penghuni neraka.
4. Hapus amal kebaikannya
Nabi Saw. bersabda:



Artinya: “Sesungguhnya ujub itu dapat menghapus amal baik 70 tahun”. (HR. Dailami).
Dalam hadits lain Nabi Saw bersabda:



Artinya: “Barangsiapa memuji dirinya sendiri karena amal saleh yang dia kerjakan, sungguh sesat syukurnya dia terhadap Allah dan hapuslah amal kebaikannya.” (HR. Abu Nu’aim)..

5. Tidak akan dapat masuk sorga
Nabi Saw. bersabda :



Artinya: “Tidak akan masuk sorga orang yang dalam lubuk hatinya ada rasa sombong, sekalipun hanya sekecil dzarrah/ atom”.

4. Menjauhi sifat sombong
Setelah kita memahami tentang bahaya dan akibat yang ditimbulkan dari sifat sombong, maka kita berkewajiban menjauhi sifat dan perilaku tersebut. Di antara cara untuk menghindari sifat sombong adalah :
1. Merasa bahwa diri kita lemah dan hina
Firman Allah Swt. :

Artinya:
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah nditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. ….” (Q.S. Al Hajj: 5).
2. Tingkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.
3. Menjauhi pergaulan dengan orang-orang yang buruk perangainya (sombong)
4. Kita juga harus mengingat bahaya dan azab yang ditimbulkan dari sifat sombong.
5. Kita harus berperilaku dengan sifat tawadlu (rendah diri)
Nabi Saw. bersabda:



Artinya: “Siapa merendah diri / tawadlu, maka diangkat derajatnya oleh Allah, dan sebaliknya siapa sombong, pasti dijatuhkan kedudukannya oleh Allah”.
1. Macam-macam takabur
a. Takabur bathin artinya seseorang yang merasa dalam hatinya dia mengungguli yang lainnya dalam sifat kesempurnaan.
b. Takabur dzahir yaitu beberapa tingkah laku yang tampak akibat dari takabur bathin
3. Contoh-contoh takabur kepada Allah
Tidak mengakui Allah SWT sebagai tempat bersandar dan tempat meminta serta tidak menghiraukan perintah-perintah dan larangan Allah atau mengabaikan aturan-aturan agama
4. Contoh-contoh takabur sesama manusia
a. Orang yang menyombongkan diri karena ilmu
b. Orang yang menyombongkan diri karena harta, jabatan dan kedudukan
c. Orang yang menyombongkan karena kekuatan fisik
d. Orang yang menyombongkan diri karena kecantikan

C. Metode PembelajaranMenyebutka
1. Ceramah
2. Tanya jawab dan
3. Diskusi
4. Pendekatgan : CTL (Inquiri, questioning dan human comunity)
D. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
1. Pendahuluan
a.Memberi salam dan memulai pelajaran dengan membaca basmalah dan berdo’a
b.Membaca ayat-ayat Al-Qur’an selama 5 – 10 menit
c.Menjelaskan materi secara singkat yang akan diajarkan serta kompetensi dasar yang akan dicapai

2. Kegiatan inti
a. Peserta didik masing-masing membaca dan menelaah literatur tentang takabur dan macam-macamnya
b. Masing-masing Peserta didik mencatat dua dalil naqli yang terkait dengan takabur
c. Masing-masing kelompok berdiskusi tentang pengertian sifat takabur dan macam-macamnya
d. Ketua kelompok membacakan hasil diskusinya
e. Searing antara guru dengan Peserta didik, Peserta didik dengan Peserta didik, Peserta didik dengan guru
f. Memberikan reaward kepada kelompok yang terbaik

3. Penutup
a. Menyimpulkan materi hasil diskusi
b. Memberikan evaluasi
c. Berdoa

E. Alat / Sumber Belajar
1. Al-Qur’an dan terjemahannya
2. Buku paket Pendidikan Agama Islam
3. Buku-buku lainnya yang relevan

F. Penilaian
Teknik : tertulis dan lisan
Instrumen/Soal :
1. Jelaskan pengertian takabur?
2. Tuliskan dua dalil naqli yang terkait dengan takabur !
3. Sebutkan macam-macam takabur !


Kedokanbunder, Januari 2011
Mengetahui :
Kepala Sekolah,

Guru Pendidikan Agama Islam,




MOHAMAD HATTA, M.Pd
NIP. 19680315 1999003 1 005




SANDIKA, S.PdI
NIP. 19650901 200003 1 003

RPP PAI NO 12

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )
NOMOR ; 12

SMP : SMP Negeri 1 Kedokanbunder
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas / Semester : IX / II
Standar Kompetensi : 12. Memahami tata cara berbagai shalat sunat
Kompetensi Dasar : 12.1 Menyebutkan pengertian dan ketentuan shalat sunat berjamaah dan
munfarid.
12.2 Menyebutkan contoh shalat sunat berjamaah dan munfarid
Alokasi Waktu : 4 x 40 menit ( 2 x pertemuan)

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah kegiatan belajar mengajar ini, diharapkan peserta didik dapat :
1. Menjelaskan pengertian shalat sunnah berjamaah dan shalat munfarid
2. Peserta didik dapat menjelaskan pengertian shalat sunnah munfarid dan ketentuannya
3. Peserta didik dapat menyebutkan dalil naqli tentang shalat sunnah berjamaah dan munfarid
4. Peserta didik dapat menyebutkan contoh-contoh shalat sunah berjamaah dan munfarid

B. Materi Pembelajaran
Shalat sunnah berjamaah dan munfarid
1. Shalat sunnah berjamaah
Pengertian shalat sunnah berjamaah adalah shalat sunnah yang dilakukan secara berjamaah terdiri dari seorang imam dan makmum. Dasar hokum atau dalil naqli tentang shalat sunnah berjamaah yaitu sabda Rasulullah SAW


Artinya: Dari Ibnu Umar: Rasulullah SAW dan Umar pernah melakukan shalat sunnah dua hari raya sebelum berkhutbah (HR Jamaah Ahli Hadits).

2. Contoh-contoh shalat sunnah berjamaah
a. Shalat sunnah idul fitri dan idul adha
b. Shalat Istisqa
c. Shalat gerhana

3. Shalat sunnah munfarid
Pengertian shalat sunnah munfarid adalah sunnah yang dilakukan secaraaaa sendiri-sendiri. Dasar hukum/dalil naqli tentang shalat sunnah munfarid adalah sabda Rasulullah SAW :


Artinya: Dari Abdullah bin Umar berkata:”Saya ingat dari Rasulullah SAW dua rakaat sebelum zuhur dua rakaat sesudah zuhur,dua rakaat sesudah maghrib,dua rakaat sesudah isya dan dua rakaat sebelum subuh (HR.Bukhari dan Muslim).

4. Contoh-contoh shalat sunnah munfarid
Shalat sunnah rawatib yaitu qabliah zuhur,bada zuhur,qabliyah asar,bada maghrib,bada isya dan qabliyah subuh.
Tata cara salat sunah berjamaah (idain)
1. Disunnahkan berjamaah
2. Takbir 7 kali sesudah membaca doa iftitah
3. Membaca tasbih di antara beberapa takbir
4. Mengeraskan bacaan bagi imam
5. Khutbah dua kali sesudah salat
6. Di dalam khutbah hari raya idul fitri hendaklah dijelaskan tentang zakat fitrah, sedangkan pada hari raya idul adha dijelaskan hokum-hukum kurban
Tata cara salat sunah munfarid (rawatib)
Cara mengerjakan salat sunah munfarid sama dengan mengerjakan salat fardhu, baik bacaan maupun gerakannya, hanya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Tidak diawali dengan azan atau iqamah
2. Dikerjakan secara munfarid (sendiri)
3. Bacaan yang tidak dizaharkan
4. Sebaiknya pindah atau bergeser tempat dari salat fardhu
5. Jika salat sunah lebih dari dua rakaat maka dilakukan dua rakaat salam (dua-dua)

C. Metode Pembelajaran Menyebutkan
1.Diskusi
2.Praktik
3.Drill

D. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
1.Pendahuluan
a.Memberi salam dan memulai pelajaran dengan membaca basmalah dan berdo’a
b.Membaca ayat-ayat Al-Qur’an selama 5 – 10 menit
c.Menjelaskan materi secara singkat yang akan diajarkan serta kompetensi dasar yang akan dicapai
2. Kegiatan inti
a.Peserta didik membaca dan menelaah literatur tentang shalat sunnah berjamaah dan munfarid.
b.Peserta didik mendiskusikan berbagai ketentuan tentang shalat sunnah berjamaah dan munfarid bersama teman-teman
c.Peserta didik merumuskan beberapa poin penting tentang shalat sunnah berjamaah dan munfarid.
3. Penutup
a.Menyimpulkan beberapa ketentuan tentang shalat sunnah berjamaah dan munfarid.
b.Memberikan tugas Peserta didik untuk menuliskan beberapa dalil naqli tentang shalat sunnah berjamaah dan munfarid.

E. Alat / Sumber Belajar
1.Al-Qur’an dan terjemahannya
2.Buku paket Pendidikan Agama Islam
3.Buku-buku lainnya yang relevan

F. Penilaian
1.Jelaskan pengertian shalat sunnah berjamaah dan munfarid
2.Tuliskan beberapa dalil naqli tentang shalat sunnah berjamaah dan munfarid.!
3. Sebutkan contoh-contoh salta sunah berjamaah dan munfarid

Kedokanbunder, Januari 2011
Mengetahui :
Kepala Sekolah,





MOHAMAD HATTA, M.Pd
NIP. 19680315 1999003 1 005

Guru Pendidikan Agama Islam,


SANDIKA, S.PdI
NIP. 19650901 200003 1 003

RPP PAI NO 13

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )
NOMOR : 13

SMP : SMP Negeri 1 Kedokanbunder
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas / Semester : IX / II
Standar Kompetensi : 13. Memahami sejarah tradisi Islam nusantara
Kompetensi Dasar : 13.1 Menceritakan seni budaya lokal sebagai bagian dari tradisi Islam
13.2. Memberikan apresiasi terhadap tradisi dan upacara adat kesukuan nusantara
Alokasi Waktu : 4 x 40 menit ( 2 x pertemuan)

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah kegiatan belajar mengajar ini, diharapkan peserta didik dapat :
1. Peserta didik dapat menjelaskan tentang pengertian seni budaya lokal
2. Peserta didik dapat menjelaskan tentang tradisi Islam
3. Peserta didik dapat menceritakan seni budaya lokal yang bernuansa Islami
4. Peserta didik dapat menjelaskan tradisi dan upacara adat kesukuan nusantara
5. Peserta didik dapat mengapresiasikan terhadap tradisi dan upacara adat kesukuan nusantara yang bernuansa Islami

B. Materi Pembelajaran
Sejarah Tradisi Islam Nusantara
1. Pengertian seni budaya local
2. Tradisi Islam
3. Seni budaya local yang bernuansa Islami
4. Tradisi dan upacara adapt kesukuan di Nusantara
5. Apresiasi terhadap tradisi dan upacara adat kesukuan nusantara

C. Metode PembelajaranMenyebutka
1. Diskusi
2. Tanya jawab
3. Ceramah

D. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
1.Pendahuluan
a.Memberi salam dan memulai pelajaran dengan membaca basmalah dan berdo’a
b.Membaca ayat-ayat Al-Qur’an selama 5 – 10 menit
c.Menjelaskan materi secara singkat yang akan diajarkan serta kompetensi dasar yang akan dicapai
2. Kegiatan inti
a.Peserta didik duduk sesuai dengan kelompoknya masing-masing
b.Peserta didik membaca dan menelaah literatur tentang seni budaya lokal di Indonesia, baik yang bernuansa Islami maupun yang berupa upacara adat kesukuan nusantara dan mengidentifikasi keistimewaan berbagai budaya lokal di Indonesia
c.Peserta didik mendiskusikan hasil bacaan dan telaahannya dalam kelompok masing-masing
d. Wakil kelompok mencatat hasil diskusi, kemudian secara bergantian membacakannya di tanggapi oleh kelompok lain

3. Penutup
a.Peserta didik dan guru bersama-sama menyimpulkan hasil diskusi
b.Peserta didik secara bersama-sama berdo’a dan memberi salam

E. Alat / Sumber Belajar
1.Buku paket Pendidikan Agama Islam
2.Buku-buku lainnya yang relevan



F. Penilaian
1. Apa yang kamu ketahui tentang seni budaya lokal
2. Tunjukkan beberapa seni budaya yang berkembang sekarang yang merupakan warisan tradisi Islam
3. Jelaskan salah satu jenis budaya lokal yang bernuansa Islami di daerahmu
4. Jelaskan tradisi dan upacara adat kesukuan nusantara
5. Apresiasikanlah per kelompok seni budaya lokal yang bernuansa islami


Kedokanbunder, Januari 2011
Mengetahui :
Kepala Sekolah,




MOHAMAD HATTA, M.Pd
NIP. 19680315 1999003 1 005

Guru Pendidikan Agama Islam,



SANDIKA, S.PdI
NIP. 19650901 200003 1 003
    Next Page »
    Close